Awesome Image
Written By

Menghadapi Ragam Skenario Teknologi di Masa Depan

Oleh Josandy Maha Putra

Sesi sharing bersama Regi Wahyu, CEO Dattabot & HARA. Diadakan oleh Daya Dimensi Indonesia (DDI) cabang Surabaya. 

‘’If technology can replace your job right now, then what you’ll do in the future?’’.
 
        Bulan Juni lalu, Facebook mengumumkan akan menggunakan Libra pada tahun 2020, yaitu sebuah currency yang mana nantinya, melalui berbagai macam aplikasi yang dimiliki Facebook, akan bisa digunakan sebagai metode pembayaran.  Mata uang ini sudah didukung oleh 27 perusahaan besar dunia, seperti Mastercard, Visa, Lyft, Kiva, Stripe, Uber, PayPal, dan bahkan Women's World Banking. Semua perusahaan tersebut, tergabung dalam Libra Association, yang mana juga memiliki kendali untuk membuat perubahan pada Libra. 

        Untuk menggunakannya, seorang pengguna harus meng-install dulu dompet digital yang disebut dengan Calibra, juga diciptakan oleh Facebook. Jadi bayangkan nanti, seluruh transaksi yang terjadi di Instagram, Facebook, dan WhatsApp Messenger, bisa menggunakan mata uang ini. Semudah melakukan transaksi pada aplikasi uang digital lain. 

        Berbagai bentuk skenario masa depan, sudah banyak dirilis oleh berbagai sumber terpercaya. Akselerasi percepatan teknologi semakin lama semakin cepat. Ambil contoh, pada alat tranportasi. Dibandingkan dengan ribuan tahun yang lalu, dari zaman pertama kali pemakaian kuda sebagai alat untuk berpindah tempat, butuh ribuan tahun untuk mendisrupsi kebutuhan transportasi, hingga berevolusi menjadi sebuah mobil. Dimulai disaat Mercedes Benz mengeluarkan mobil pertamanya tahun 1886 oleh sang pendiri, Karl Benz. Bahkan, untuk perkembangan teknologi yang sedikit lebih baik, jaraknya juga perlu puluhan tahun, dari pertama kali industry 2.0 mulai berjalan, saat Henry Ford mengeluarkan mobil pertamanya, Model T pada tahun 1908. 

        Namun, pada era modern ini, hanya butuh waktu singkat untuk perkembangan yang lebih advance pada transportasi, contoh yang bisa diambil yakni keluaran mobil all electric Tesla pada tahun 2012 hingga akhirnya Elon Musk berhasil meluncurkan pesawat ruang angkasanya bersama dengan dummy astrounout disebut dengan Crew Dragon pada maret tahun ini, 2019. Ini adalah sejarah dimana, sedikit lagi Crew Dragon bisa bertugas untuk mengangkut astronaut NASA ke International Space Station ke depannya.
 
Exponential Technology 

        Revolusi mobil tersebut, menunjukkan adanya fase pertumbuhan yang signifikan dalam perkembangan teknologi. Menurut Peter Diamandis (Founder X-Prize Foundation & Co-Founder Singularity University), fase–fase dimana teknologi melonjak cepat ini (exponential technology), sudah melewati 6 tahap proses development yang disebut dengan 6D: Digitalization, Disruption, Deception, Demonetization, Dematerialization, dan Democratization.
   Digitalization:  Tahap dimana terjadinya digitalisasi.  Transisi dari offline menuju online. Contoh simple seperti; pembelian barang yang biasanya sering dilakukan di pasar, sekarang bisa dilakukan melalui toko–toko online. Pada dasarnya, semua hal mempunyai potensi untuk berakselerasi lebih cepat, melalui digitalisasi. 
   Deceptive: Pada tahap ini, ketika sesuatu hal mengalami digitalisasi, dampaknya belum kelihatan, tidak ada perkembangan yang signifikan & bahkan banyak trial error. Seperti misalnya Gojek. Mulai dari awal didirikan tahun 2009–2014, tidak banyak kedengaran bukan? Atau Bukalapak disaat 4 tahun pertamanya, juga tidak banyak orang yang tahu. Proses ini bisa disebut juga dengan inkubasi teknologi.
   Disruptive: Pada tahap ini, market–market lama mulai terganggu dengan semakin berkembangnya teknologi yang pada awalnya ada di fase inkubasi seperti diatas. Misal saat ojek–ojek pangkalan mulai terganggu dengan Ojol, bahkan juga mengganggu market Taxi Bluebird. Akibatnya, terbentuklah market–market baru, merebut market yang lama tersebut. 
   Demonetization: Tahapan dimana teknologi yang berkembang sudah tidak menjadikan lagi profit sebagai prioritas utama. Salah satu yang menjadi trend sekarang ini adalah penerimaan cashback untuk setiap transaksi pada kebanyakan uang digital.  Sebagian produk, malah memberikan uang kepada customer yang melakukan pembelian. Tentu bagi perusahaan lain yang mengutamakan profit (money oriented), hal ini akan merugikan karena customer akan memilih hal–hal yang kurang/tidak berbayar. 
   Dematerialization: Terjadinya pemusatan manfaat teknologi–teknologi yang lama, pada 1 platform teknologi yang berkembang. Seperti misalnya, smartphone yang kebanyakan sudah multifungsi karena bisa mendengarkan musik, senter, kamera bahkan dompet digital. Atau Gojek yang baru saja berubah logo, karena sudah berlabel "super app."
   Democratization: Pada tahap akhir ini exponential technology ini, banyak orang sudah mempunyai akses yang sama dalam menikmati teknologi tersebut. Yang awalnya terbatas, sekarang sudah dimiliki hampir semua orang. Misalnya seperti tablet, yang mana dulunya hanya segelintir orang yang memiliki ketika awal dirilis. Sekarang, malah sudah ada toko –toko yang membuka jasa sewa tablet. 
 
        Dengan banyaknya teknologi yang semakin berkembang, semakin besar potensinya hal–hal disekitar bisa terdisrupsi. Dampaknya pun ke berbagai arah, yakni ekonomi, sosial, budaya dan lain–lain. Sebagai contoh: era smartphone yang mana membuat kebanyakan orang sibuk dengan diri sendiri, hingga lupa berinteraksi dengan sekitar. Tentunya ada juga kerugian yang akan dirasakan. Lalu bagaimanakah persiapan manusia dalam menghadapi era disruptif ini? Bagi yang sudah menjadi orang tua, bekal apa yang harus diberikan kepada anak-anak? 

        Juga tidak lupa untuk perusahaan, banyak riset yang mengungkapkan, beberapa fungsi pekerjaan akan hilang. Sudah banyak tipe bisnis yang punah, oleh sebab disrupsi. Seperti misalnya, wartel (warung telepon). Kedepannya, bagaimana fungsi bisnis yang masih aktif? Apakah pekerjaan yang kita lakukan sekarang termasuk yang akan hilang di masa depan? Oleh sebab mesin dan robot, pengalaman dan skill yang telah dipelajari seseorang selama bertahun–tahun, bisa akan hilang dengan jentikan jari, karena kebutuhan market yang berubah cepat.

About the speaker: 
        Regi Wahyu memiliki pengalaman luas sebagai profesional pengembangan bisnis internasional. Memegang posisi di Development Dimensions International dan GE di awal karirnya, Regi bergabung dengan DuPont Company pada pertengahan tahun 2000an sebagai Regional Product Leader for Asia. Dia segera beralih ke Director of Business Development di Indonesia, mengelola lebih dari US$ 60 juta restrukturisasi portofolio solusi berkelanjutan minyak dan gas DuPont di negara asalnya. Setelah itu, Regi meninggalkan DuPont di awal tahun 2010, dan mengalihkan fokusnya ke lebih banyak proyek kewirausahaan. Dia mendirikan kantor untuk dua perusahaan pemasaran dan komunikasi di Indonesia, Posterscope dan Isobar, saat berinvestasi di posisi ketiga, Mediatrac. Akhir 2014, dia berhasil menjual sahamnya di kedua perusahaan pemasaran ke perusahaan periklanan besar Jepang dan yakin akan potensi analisis data yang besar, Regi memutuskan untuk berkonsentrasi hanya pada Mediatrac, menjadi CEO pada bulan Januari 2015. Mediatrac diubah namanya menjadi Dattabot pada tahun 2016. Platform dengan sistem Dattabot AI akan mengumpulkan dan menghubungkan data untuk memberikan rekomendasi yang berharga dan kontekstual.

About Dattabot: 
         Perusahaan yang punya impian untuk membawa data - data yg sifatnya offline, menjadi online. Sehingga bisa memberikan sebuah nilai tambah. Dattabot adalah penggerak pertama di pasar data besar Indonesia, dan teknologi proprietary-nya menghadirkan penghalang yang tinggi untuk kompetitor potensial lainnya. Dattabot menawarkan perusahaan platform yang mengintegrasikan data internal yang tersebar dan terfragmentasi dengan data yang tersedia secara publik, mengubahnya menjadi lebih nyata dan mudah untuk diolah. Data2 ini diambil dari satelit hasil kerja sama dengan planet.com, perusahaan nano satellite berukuran 30x30 cm, yang ada 148 di dunia dan bisa scan setiap harinya di dunia. 

About the Author: 
        Setelah lulus dari Universiti Utara Malaysia (UUM) jurusan International Business Management, Josandy Maha Putra sekarang bekerja sebagai Business Development untuk Daya Lima, perusahaan induk Daya Dimensi Indonesia. Sangat menyukai dunia personal growth dan people development, Josandy juga aktif menulis di berbagai platform, seperti rumahmillennials.com untuk pengembangan diri Millennials, dan perwakilan Indonesia untuk prospectsasean.com, yang mana Ia menulis berita – berita inspiratif tentang negeri, untuk dibaca pada skala global. Josandy bisa dihubungi pada email: josandy.putra@dayadimensi.id



Read Comments