Awesome Image
Written By

Menerawang Masa Depan Pemimpin dan Organisasi: Sebuah Catatan RUMI-U

Masterclass RUMI-U keempat diadakan pada 10 Maret 2021; bertepatan dengan 1 tahun RUMI berkarya di Indonesia. Pada kesempatan ini, RUMI dan Daya Dimensi Indonesia bekerjasama dengan Vinay Hebbar; Senior Vice-President - International Markets, Member of the Executive Committee dari Harvard Business Publishing (HBP) dan mengangkat tema “Leadership in a Post-Pandemic World.” Mentor RUMI yang bertindak sebagai panelis dan penanggap dalam konteks Indonesia adalah Rachmat Kaimuddin, CEO BukaLapak, yang juga hadir dalam acara perkenalan RUMI tahun lalu. 

Setelah opening remarks oleh John S. Karamoy selaku salah satu Steering Committee RUMI, moderator Martin William dari Daya Dimensi Indonesia mempersilakan Vinay Hebbar untuk menjelaskan paparannya. Vinay membuka sesi dengan apresiasi terhadap usaha RUMI dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan di Indonesia melalui mentoring. Adapun materi Vinay hari ini merupakan hasil temuan dari Global Listening Tour yang dilaksanakan oleh HBP pada pertengahan 2020 lalu. Riset tersebut melihat dampak pandemi terhadap bisnis dan implikasinya pada leadership capabilities, dengan menjawab tiga pertanyaan:
1. What were the shifts in business priorities? (Apa saja prioritas bisnis yang bergeser?)
2. What (do those shifts) imply for leaders? (Apakah arti dari perubahan tersebut terhadap para pemimpin?)
3. What (new) leadership capabilities are needed? (Kemampuan (baru) apakah yang dibutuhkan dalam era baru ini?)

Berdasarkan pengamatan HBP, trend yang mengubah prioritas bisnis dapat dibagi menjadi tiga hal; ekosistem, demand, dan supply. Vinay mengutip kontributor The New York Times, Thomas Friedman, ketika dunia selamat dari krisis COVID-19 ini, kita akan disambut oleh era sebuah creative destruction yang sangat besar – dengan kemudahan akses terhadap peralatan yang menunjang inovasi dan pinjaman. It’s a great time to be an entrepreneur. Perubahan dalam sisi demand ditunjukkan melalui trend de-globalisation dan dunia yang lebih inward-looking, sedangkan perubahan supply ditunjukkan dengan perusahaan yang berlomba mencapai efisiensi ekstrim dan low-cost strategy. Dalam hal ini, Indonesia berada dalam posisi strategis dimana dunia berusaha melakukan diversifikasi supply dari Tiongkok, dengan demografi yang cenderung muda dan iklim entrepreneur yang relatif baik. Namun, tegas Vinay, apakah Indonesia memiliki talenta yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan zaman? Masa depan akan dimiliki oleh para pemimpin yang mampu menavigasi perubahan dan bertindak secara agile. 

Implikasi pada bisnis yang paling terasa dapat kembali dirangkum dalam tiga hal; question the past, manage the present, dan create the future. Trend remote working dan koordinasi pekerjaan secara digital akan terus berlanjut. Masa depan dunia perkantoran adalah hybrid office; lokasi fisik kantor tetap diperlukan namun dengan fleksibilitas pengaturan kerja dengan kombinasi work from office (WFO) dan work from anywhere (WFA). Riset HBP menunjukkan bahwa manusia tetap perlu menjalin hubungan profesional dan kedekatan fisik, sehingga kantor di masa depan akan bertindak sebagai tempat untuk saling terhubung dan membangun a culture of learning. 

Trend selanjutnya adalah kebutuhan untuk keterbukaan hierarki melalui media digital. Semakin banyak pimpinan senior perusahaan terhubung langsung dengan para karyawan frontline dan kontributor individu. Hal ini didorong oleh kebutuhan untuk membuat keputusan cepat berdasarkan data aktual di lapangan, yang bisa didapatkan melalui orang-orang yang langsung berhadapan dengan masalah. Alhasil, banyak perusahaan mulai bergerak dari model hierarki kekuasaan berbentuk piramida menuju bentuk “barbel” – dengan titik berat di first-line dan top management.
Adopsi solusi digital juga menjadi salah satu trend yang mengakselerasi perubahan, direfleksikan dalam SPEED (kecepatan perubahan) dan SHIFTS (besarnya perubahan). Observasi dari CEO Microsoft turut mengonfirmasi bahwa transformasi digital yang diproyeksi akan berlangsung selama 2 tahun telah terjadi dalam 2 bulan. Vinay menegaskan bahwa perusahaan harus jeli melihat perubahan trend digital dan beradaptasi, melalui contoh case study Huanxi Media. Pada Lunar New Year 2020; periode liburan terbesar di Tiongkok, Huanxi Media berencana untuk merilis film “Lost in Russia.” Namun pandemi menyebabkan 70.000 bioskop di Tiongkok tutup. Tidak putus asa, Huanxi kemudian bermitra dengan TikTok sebagai media distribusi dan membuat film tersedia untuk online streaming melalui TikTok. Hasilnya, film tersebut ditonton oleh lebih dari 60 juta penonton dan mendapat pemasukan lebih dari 96 juta USD – jauh lebih tinggi dibanding proyeksi awal ketika distribusi dilakukan melalui bioskop.

Seluruh trend tersebut menjadikan dunia menjadi semakin terpolarisasi bagi para leaders. Para pemimpin diharapkan untuk bisa menjadi ambidextrous dan melakukan dua hal yang nampak berlawanan sekaligus. Beberapa contohnya adalah fleksibel namun memastikan produktivitas tinggi; fight to survive, namun juga harus berinovasi dan mencari growth opportunities baru; serta menegaskan struktur dan kejelasan proses, namun juga memberikan otonomi dan kebebasan membuat keputusan. Kunci dari menavigasi kondisi saat ini adalah sebuah common purpose atau tujuan bersama yang dimiliki oleh seluruh stakeholder di perusahaan. 

Terakhir, seluruh perubahan yang terjadi membuat pemimpin membutuhkan leadership capabilities yang baru. Tiga kemampuan memimpin yang menjadi kunci pada era disruptif ini adalah lead through uncertainty, cultivate trust, dan reskill for opportunity. Agar pemimpin dapat terus bertahan, penting untuk terus belajar (continuous learning) dan selalu merespon kesempatan dan tantangan dengan pemikiran yang baru, kritis, dan agile. Vinay juga mengutip HBP Podcast oleh Nancy Cohen tentang Sir Ernest Shackleton dan ekspedisi Antartika “Endurance” yang terperangkap selama 2 tahun dalam kondisi ekstrim. Tak disangka, seluruh awak kapal berhasil selamat. Studi tersebut pun terkenal sebagai salah satu contoh kepemimpinan yang memotivasi tim melalui “brutal honesty and offering credible hope to fight crisis.” 

Rachmat Kaimuddin, Mentor RUMI yang menjadi panelis sesi hari ini, menanggapi paparan Vinay dengan contoh nyata yang telah dilaksanakan di BukaLapak. Sebagai sebuah startup, demografi perusahaan yang relatif muda menjadikan pandemi ini pengalaman krisis pertama bagi banyak karyawannya. Strategi yang dilaksanakan oleh BukaLapak sejalan dengan arahan HBP, yakni kembali pada purpose organisasi. Meskipun kondisi sulit, pandemi ini merupakan kesempatan untuk organisasi untuk mewujudkan misi perusahaan dan berkontribusi pada keberlangsungan bangsa. Sejalan dengan nilai gotong-royong yang mengakar di Indonesia, Rachmat juga mendapati bahwa BukaLapak semakin banyak berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, NGO, bahkan para kompetitor untuk membuat inisiatif-inisiatif baru demi menghidupkan perekonomian.

Rachmat juga mengaku perlu semakin jeli melihat pergeseran perilaku konsumen. Beberapa trend yang meningkat selama pandemi adalah tingginya kesadaran akan kesehatan, #dirumahaja, dan pengeluaran yang lebih bijaksana. Digitalisasi juga bukan menjadi kemewahan, melainkan kebutuhan pokok. Popularitas warung dan toko digital pun meningkat karena orang-orang menjadi lebih suka berbelanja dekat rumah dibandingkan di pasar atau hypermarket. BukaLapak pun melihat kesempatan ini sebagai cara untuk semakin terhubung dengan para mitra, baik melalui edukasi webinar, sistem komisi baru, kompetisi digital antarmitra, gamification, dsb. 

Dalam menjaga relasi internal perusahaan, pesan Rachmat kepada seluruh karyawan juga konsisten dengan temuan HBP: our job is to provide a circle of safety. Hal ini direalisasikan melalui kebijakan seperti adopsi protokol kesehatan di lingkungan kantor, WFH, dan kini menjadi hybrid working model. Selain itu untuk menangani stress dan anxiety yang muncul, BukaLapak menyediakan psikolog untuk mendukung kesehatan mental dan berbagai kegiatan online engagement, mulai dari team lunch hingga venting session bersama manajemen – sebagai salah satu bentuk nyata dari “brutal honesty and credible hope.”

Sebagai penutup, Vinay menegaskan bahwa dunia tidak akan pernah kembali ke Maret 2020. Perubahan zaman merupakan sebuah keniscayaan; telah dan akan terus terjadi. Pemimpin dan organisasi yang dapat bertahan adalah mereka yang mampu memanfaatkan kondisi ini untuk terus berkembang. Kuncinya adalah pada TALENTA. Do you have the leaders with the capabilities? (GZN)



Read Comments