Awesome Image
Written By

Human & Robots are in One Ecosystem and How to Prepare for that Situation?

Oleh Josandy Maha Putra

Sesi sharing bersama Regi Wahyu, CEO Dattabot & HARA. Diadakan oleh Daya Dimensi Indonesia (DDI) cabang Surabaya.

 Human & Robots are in One Ecosystem and How to Prepare for that Situation?


Bila dikaji dalam berbagai aspek, teknologi, sosial, budaya, ekonomi, dan lain semacamnya, ada beberapa kemungkinan tentang dampak teknologi yang bisa terjadi. Dari sisi ekonomi misalnya, Indonesia diprediksi menjadi salah satu dari 4 besar negara dengan kekuatan ekonomi terkuat tahun 2045. Atau dari sisi sosial, terancam punahnya bahasa murni oleh sebab penggunaan bahasanya sendiri sudah banyak tercampur–campur oleh bahasa lain. Bila membahas dari sisi teknologi, yang jelas kehidupan manusia tidak akan lepas dari peran mesin dan robot. 

Salah satu robot yang sempat menjadi trend pada tahun lalu adalah Sophia, robot humanoid yang dikembangkan oleh perusahaan berbasis teknologi di Hong Kong, Hanson Robotics. Robot ini sudah diberikan kewarganegaraan Arab Saudi. Sophia mampu berinteraksi dan dibekali artificial intelligence, yang tentunya membuat robot ini sangat cerdas. Nah, merujuk pada bahasan exponential technology pada artikel sebelumnya, yaitu percepatan teknologi terjadi dalam kurun waktu singkat, hitunglah umur sekarang adalah 25 tahun, saat berumur 35 tahun, siapkah menghadapi Sophia ini pada 10 tahun kedepan?

Manusia juga harus bisa memposisikan robot sebagai pesaing modern, bukan hanya sebagai partner. Kehadiran robot memang mampu meningkatnya produktivitas/effektivitas pekerjaan dari manusia. Di saat yang sama, pertanggungjawaban yang terlalu bergantung pada robot juga akan mengurangi jumlah pekerja-pekerja anual, menyebabkan banyak pekerjaan akan menghilang. 
 
Ada pekerjaan–pekerjaan bergengsi seperti HR yang sudah dari sekarang, fungsi rekrutment dan performance management digantikan oleh sistem mesin, entah lah bagaimana situasi pada tahun–tahun ke depan. Robot–robot pun juga sudah ada yang diprogram bisa mendesain, sehingga akan menggantikan peran designer. Offline manager, yang mana nantinya robot bisa mengambil alih untuk mengelola sebuah tempat, dan lain sebagainya. Contoh–contoh pekerjaan yang hilang ini, akan dibahas lebih lengkap pada artikel selanjutnya.

Di salah satu industri di salah satu kota di Indonesia, sudah kehilangan 10.000 orang akibat downsizing company ini. Sehingga, salah satu cara untuk beradaptasi dengan situasi tersebut, yakni dengan belajar untuk meningkatkan skill – skill yang sekiranya diperlukan di masa depan. Seperti misalnya: 

a. Advance Soft-skill
Sebagian peran manusia di masa depan akan digantikan oleh robot. Karena itu penting untuk mengasah keahlian–keahlian dan meningkatkan kompetensi yang sekiranya akan tetap diperlukan agar tetap menjadi SDM yang dibutuhkan perusahaan. Seperti misalnya;
Kemampuan memimpin, bekerja sama dan memanage berbagai ragam latar belakang orang dan kemungkinan juga akan memanage robot. 
Berpikir kritis dan analytical, melimpahnya informasi zaman sekarang membuat orang – orang harus bijak dalam mencernanya. Lain dari itu, skill ini juga tetap akan diperlukan dalam menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan.
Keterampilan komunikasi interpersonal, yang tidak hanya sepintas berkomunikasi untuk mengatakan hal yang benar, tapi juga bagaimana menggunakan bahasa tubuh dan nada suara yang tepat.
Kecerdasan emosional (EQ), secanggih apapun sebuah mesin, kemampuan manusia untuk terhubung dengan manusia lain tidak mudah untuk digantikan. Orang–orang dengan EQ tinggi akan tetap dibutuhkan di masa depan. 
Kreativitas, dengan peluangpeluang bekerja sama dengan robot dan mesin, manusia dituntut untuk lebih kreatif untuk bisa menggunakannya, agar bisa memaksimalkan manfaat–manfaat yang bisa didapat.  

Ini baru segelintir skill, dan masih banyak lagi hal yang harus ditingkatkan, Jadi ibaratnya, selain manusia, tumbuhan, dan heman, satu spesies yang akan semakin banyak jumlahnya yakni robot. Siapkah manusia agar bisa bersaing dengan robot? Yang kebanyakan tugasnya adalah mengerjakan hal yang tidak bisa dikerjakan manusia?

b. Keterampilan memahami teknologi, data dan hal – hal bersifat online
Inovasi–inovasi teknologi yang terus berkembang, menyebabkan akan berubahnya juga skill–skill yang diperlukan. Ada namanya sekolah Forty Two (42) di Prancis, foundernya adalah billionaire Prancis, Xaxier Neil. Ini adalah sekolah programming, yang tidak ada guru, tidak ada kurikulum, tidak ada gelar yang akan disematkan juga, dibuka 24 jam sehari, dan gratis. Setiap orang diperbolehkan untuk belajar sesuatu sampai dia di-hire. Sekolah ini terinspirasi oleh cara-cara modern baru dalam belajar, yaitu belajar dengan teman sekelas dan project-based learning.

Inisiasi ini merupakan cerminan usaha meng’’digital’’kan manusia. Hal ini bisa dikatakan sudah menjadi kebutuhan orang – orang sekarang, sama seperti terjadinya edukasi tidak langsung pada driver Ojol yang diawal tidak banyak yang melek teknologi. Coba bayangkan, jika Ojol ini tidak siap dengan penggunaan smartphone, berapakah dari mereka yang tidak bisa bertahan hidup? Ini baru konteks yang kecil, pada area penggunaan smartphone oleh driver Ojol. Untuk hal – hal lain, pasti ada konteks yang lebih luas, sehingga perlunya pemahaman teknologi yang luas juga. 

Keterampilan untuk memahami teknologi dengan lebih baik ini bisa diraih asalkan ada keinginan untuk selalu belajar dan mencoba. Memang sangat simple, namun banyak juga bisa dilihat bisnis – bisnis mati karena tidak mampu beradaptasi, dan itu semua diawali dengan ketidakterbukaan pikiran untuk belajar. Nokia (HP), Kodak (fotografi), Blockbuster (penyewaan video), Reader's Digest Association (pernah menjadi majalah kesehatan terbesar), adalah beberapa contoh kecil perusahaan yang tidak bisa bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. 

c. Thought-Disrupting
Ada 3 bentuk respon kebanyakan orang - orang dalam menjawab era penuh disruptif. 
Pertama, orang–orang yang bersemangat menyambutnya, karena melihat banyak peluang yang bisa dimaksimalkan. 
Kedua, yang mengatakan bahwa efek dari disruptif ini masih jauh untuk dirasakan. 
Ketiga, kumpulan orang - orang yang langsung menolak hal ini terjadi. 

Berbagai respon dalam menyikapi hal ini, bisa menjadi sedikit bayangan kondisi sosial masyrakat kedepan, dalam menyambut perubahan. Bayangkan, kembali lagi pada Elon Musk, salah satu ide gilanya yakni untuk menempatkan teknologi chip canggih ke dalam otak manusia. Rencananya, hal tersebut akan dilakukan melalui Neuralink, salah satu perusahaannya yang didirikan pada 2016 lalu, untuk mengembangkan brain-computer interface (BCI). Ia berencana, untuk menggabungkan manusia dengan AI. Nah, pada waktu sekarang ini, ide Elon Musk terdengar aneh atau bisa dibilang berbahaya. Tidak akan banyak yang mau mencoba, untuk sekarang ini. Namun di masa depan, seperti konsep 6D fase Democratization, apabila nantinya dipakai dan semakin banyak orang yang memiliki akses untuk menggunakannya, lama – kelamaan hal ini akan menjadi suatu hal yang biasa. Pertanyaanya, siapkah kita dengan ide–ide lain yang mungkin akan terdengar gila sekarang? (bukan di masa depan)

Menjadi open minded sudah tidak cukup, ataupun hanya sekedar thought-provoking. Pola pikir kita dan sudut pandang harus benar–benar mau pula untuk di-disrupt,  dalam menerima perubahan. Sehingga, ibarat nya sebagian besar orang mampu memanfaatkan social media untuk berbisnis, dengan mendisrupsi pikiran sendiri bisa timbul ide–ide kreatif yang tidak terpikirkan sebelumnya. Salah satu trend sekarang di dunia, adalah sudah mulai terbukanya perusahaan atau kampus untuk menerima seseorang tanpa sertifikat yang relevan. Seperti yang terjadi di Stanford University, yang 5% dari jumlah total mahasiswanya diterima tanpa tes dan sertifikat selama dia menunjukkan portfolionya, kelas online learning yang pernah diikuti, dan punya clear vision kedepan. 

Perubahan kurikulum pendidikan yang terjadi seperti ini adalah tanda bahwa cara orang menghargai kualitas seseorang sudah bukan dengan sertifikat atau dokumen monoton lainnya. Dengan melimpahnya kesempatan untuk belajar apapun melalui internet, orang–orang juga akan cenderung melihat, apa yang bisa dilakukan ke depan dibanding apa yang pernah dilakukan. Kesempatan belajar tidak terbatas pada edukasi formal. Dan keinginan untuk belajar yang non-formal, akan menentukan bagaimana sikap manusia menghadapi era disruptive oleh teknologi. 

Regi Wahyu dalam misinya untuk membantu Indonesia, dari negara offline menjadi lebih online (digital). Untuk request lebih lanjut, bisa menghubungi perwakilan beliau, Josandy pada nomor WA: +601112426965

---
 
About the speaker: 
Regi Wahyu memiliki pengalaman luas sebagai profesional pengembangan bisnis internasional. Memegang posisi di Development Dimensions International dan GE di awal karirnya, Regi bergabung dengan DuPont Company pada pertengahan tahun 2000an sebagai Regional Product Leader for Asia. Dia segera beralih ke Director of Business Development di Indonesia, mengelola lebih dari US$ 60 juta restrukturisasi portofolio solusi berkelanjutan minyak dan gas DuPont di negara asalnya. Setelah itu, Regi meninggalkan DuPont di awal tahun 2010, dan mengalihkan fokusnya ke lebih banyak proyek kewirausahaan. Dia mendirikan kantor untuk dua perusahaan pemasaran dan komunikasi di Indonesia, Posterscope dan Isobar, saat berinvestasi di posisi ketiga, Mediatrac. Akhir 2014, dia berhasil menjual sahamnya di kedua perusahaan pemasaran ke perusahaan periklanan besar Jepang dan yakin akan potensi analisis data yang besar, Regi memutuskan untuk berkonsentrasi hanya pada Mediatrac, menjadi CEO pada bulan Januari 2015. Mediatrac diubah namanya menjadi Dattabot pada tahun 2016. Platform dengan sistem Dattabot AI akan mengumpulkan dan menghubungkan data untuk memberikan rekomendasi yang berharga dan kontekstual.

About Dattabot: 
 Perusahaan yang punya impian untuk membawa data - data yg sifatnya offline, menjadi online. Sehingga bisa memberikan sebuah nilai tambah. Dattabot adalah penggerak pertama di pasar data besar Indonesia, dan teknologi proprietary-nya menghadirkan penghalang yang tinggi untuk kompetitor potensial lainnya. Dattabot menawarkan perusahaan platform yang mengintegrasikan data internal yang tersebar dan terfragmentasi dengan data yang tersedia secara publik, mengubahnya menjadi lebih nyata dan mudah untuk diolah. Data2 ini diambil dari satelit hasil kerja sama dengan planet.com, perusahaan nano satellite berukuran 30x30 cm, yang ada 148 di dunia dan bisa scan setiap harinya di dunia. 

About the Author: 
Setelah lulus dari Universiti Utara Malaysia (UUM) jurusan International Business Management, Josandy Maha Putra sekarang bekerja sebagai Business Development untuk Daya Lima, perusahaan induk Daya Dimensi Indonesia. Sangat menyukai dunia personal growth dan people development, Josandy juga aktif menulis di berbagai platform, seperti rumahmillennials.com untuk pengembangan diri Millennials, dan perwakilan Indonesia untuk prospectsasean.com, yang mana Ia menulis berita – berita inspiratif tentang negeri, untuk dibaca pada skala global. Josandy bisa dihubungi pada email: josandymahaputra@gmail.com



Read Comments